Anak-anak dan remaja yang biasa melihat konten seks melalui media dan sosial media lebih cenderung melakukan aktivitas seksual daripada mereka yang tidak, demikian menurut beberapa penelitian baru.

Sebuah studi di Amerika telah menemukan hubungan langsung antara jumlah konten seksual yang dilihat anak-anak, terhadap tingkat aktivitas seksual mereka atau niat mereka untuk berhubungan seks di masa depan.

Survei yang dipublikasikan di Journal of Adolescent Health and online, mengklaim bahwa film, televisi, musik, majalah dan sosial media bertindak sebagai “kawan baik” untuk remaja yang mencari informasi tentang seks. Ini menunjukkan bahwa media memiliki pengaruh yang sama besar terhadap perilaku seksual sebagai hubungan agama, anak dengan orang tua dan teman sebayanya.

Lebih dari 1.000 anak Amerika berusia antara 12 dan 15 tahun diminta untuk mencantumkan jenis media yang mereka hadapi secara teratur. Mereka juga menjawab pertanyaan tentang kesehatan dan tingkat aktivitas seksual mereka, termasuk apakah mereka berkencan, berciuman, melakukan hubungan seks oral atau seks penuh.

Periset kemudian memeriksa kandungan seksual dari 264 item dalam daftar, termasuk majalah remaja, film remaja dan program TV. Mereka mencari contoh hubungan romantis, ketelanjangan, sindiran seksual, sentuhan, ciuman, pubertas dan bahkan hubungan seksual.

Studi tersebut menemukan bahwa film, program TV, musik dan majalah biasanya menggambarkan seks sebagai “bebas risiko”. Seks biasanya antara pasangan yang belum menikah dan contoh penggunaan kondom atau kontrasepsi lainnya “sangat jarang”.

Studi tersebut menyimpulkan: “Hubungan kuat antara ekspresi seksual media dan remaja disebabkan oleh peran media sebagai sumber penting sosialisasi seksual untuk remaja itu sendiri.

“Masa remaja adalah masa perkembangan yang ditandai oleh pencarian informasi yang intensif, terutama mengenai peran orang dewasa, karena kurangnya informasi tentang seksualitas yang tersedia bagi remaja, remaja dapat beralih ke media untuk mendapatkan informasi tentang norma seksual.”

Untuk itulah, peran Orangtua sangatlah penting untuk memberikan pendampingan dan menjadi jawaban bagi setiap pertanyaan dari anak kalian yang telah beranjak dewasa. Orangtua adalah filter dari penafsiran anak yang harus selalu dikoreksi sesuai dengan pengalaman kalian sebagai orangtua.

(theguardian/seksualitas)