Banyak ilmuwan dan peneliti berusaha menjelaskan, mengapa banyak sekali orang merasa negatif dan memiliki prasangka yang buruk terhadap pelaku homoseksual. William James (1890), seorang ilmuwan sosial mengatakan bahwa, merasa jijik melakukan kontak intim seperti berpelukan, menggenggam tangan, dan mencium seseorang dengan jenis kelamin yang sama itu hal yang naluriah, dan perasaan jijik ini lebih kuat dialami ke sesama lelaki daripada perempuan.

Menariknya, di dalam sebuah budaya di mana sebuah “ketidakwajaran” terbentuk seperti halnya homoseksual, James mengatakan bahwa penolakan, keengganan dan rasa jijik ini sebenarnya bisa diatasi dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat, maksudnya masyarakat harus dibuat biasa supaya tidak merasa jijik. Dengan kata lain, penolakan dan rasa jijik itu dianggap bawaan dari lahir, sedangkan toleransi itu suatu upaya yang dilakukan dengan cara pembiasaan.

Teori James memiliki kesamaan dengan Edward Westwermarck (1908), namun ia menemukan hal yang lebih dari sekedar “bawaan lahir”,  insting atau hal yang naluriah. Westermarck mengaitkan hal ini dengan moralitas. Dia menegaskan bahwa kecaman sosial terhadap “perilaku dan praktik homoseksual itu didasari oleh perasaan enggan dan jijik yang cenderung muncul pada manusia dewasa yang naluri seksualnya terbentuk dalam kondisi normal”.

Tapi menurutnya, penjelasan ini tidak cukup untuk menjelaskan reaksi kekerasan terhadap homoseksualitas yang ditunjukkan oleh agama Yahudi, Kristen, Islam dan Zoroastrian. Agama-agama ini sangat menentang praktik homoseksual, karena dikaitkan secara historis dengan penyembahan berhala dan penyesatan, dan kerenanya mereka mengutuknya dengan hukuman.

Psikoanalis juga memberikan penjelasan lebih dengan cara pandang sosial-psikologikal. Sigmund Freud (1905) menegaskan bahwa orientasi seks heteroseksual terjadi bukan hanya terbentuk secara biologis, tapi juga didukung dan dipengaruhi oleh larangan-larangan yang muncul di masyarakat dan dari masyarakat terhadap homoerotisme, dan tentunya dipengaruhi oleh pengalamannya bersama orangtua.

Ia juga berasumsi bahwa semua pria dan wanita memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap orang tua mereka yang berjenis kelamin sama dengannya, tapi hal ini selalu ditekan agar tidak terjadi Oedipus Complex, meskipun tidak 100% bisa ditekan. Sandor Ferenczi (1914) mengatakan bahwa keengganan, dan rasa jijik lelaki heteroseksual terhadap lelaki homoseksual merupakan bentuk formasi reaksi dan pertahanan terhadap kasih sayang ke sesama lelaki, dengan kata lain untuk mencegah lelaki lain memberikan afeksi kepadanya, ia bersikap jijik dan melakukan penolakan. Ia menyimpulkan hal yang sama terhadap kaum perempuan terhadap kaum lesbian.

Dengan kata lain, berdasarkan pernyataan-pernyataan dari ilmuwan-ilmuwan di atas, aspek biologis, sosial dan moralitas sangat erat kaitannya terhadap homophobia. Homophobia ini pun bisa dibilang wajar dan tidak salah. Tetapi homophobia dapat menjerumus ke arah kekerasan terhadap pelaku homoseksual, ini yang salah. Homophobia yang diikuti dengan kekerasan biasanya didasari oleh kepercayaannya terhadap dalil agama, dan agama dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan ini.

Kekerasan yang kerap terjadi pada masyarakat terhadap pelaku homoseksual tidak hanya kekerasan verbal, tapi juga kekerasan fisik. Cacian-cacian yang keluar dari mulut orang-orang heteroseksual terhadap pelaku homoseksual, seperti “dasar lo bencong, penuh laknat, musuh Tuhan” adalah kekerasan verbal yang bisa membuat orang yang dicaci merasa inferior, merasa tidak berharga dan bahkan bisa mengarah ke depresi dan percobaan bunuh diri.

Stop Bullying

Kekerasan verbal ini memiliki efek yang sama dengan kekerasan fisik. Bullying dengan cara memukul, dan menghajar, dilakukan sebagai upaya “menghukum” orang-orang homoseksual. Padahal, homoseksual bukanlah sebuah kejahatan yang perlu dihukum. Sama halnya dengan heteroseksual, homoseksual juga muncul dan ada karena alasan biologis, “bawaan dari lahir”, naluriah dan juga didukung oleh kondisi dan pengalaman mereka di masa kecil, hanya saja homoseksual jumlahnya lebih sedikit dibanding heteroseksual, sehingga dianggap berbeda dan dianggap “salah” karena tidak sama.

Pelaku homoseksual bisa dihukum apabila ia melakukan pelanggaran hukum, seperti memerkosa, melakukan penyiksaan, bullying dan lain sebagainya, sama hukumannya dengan pelaku heteroseksual apabila melakukan pelanggaran hukum yang sama. Bukan karena orientasi seksualnya.

Jadi, penghukuman atas dasar orientasi seksual seharusnya ditolak dan dihentikan. Karena orientasi seksual bukanlah sebuah kejahatan dan pelanggaran hukum.

(seksualitas)