“I need a good sex”

Status itu dibuat Soren (bukan nama sebenarnya) di status media sosial Whisper, media sosial untuk melakukan chat secara anonim yang menyembunyikan identitas pemilik akun. Si pemilik akun hanya cukup membuat nick name dan mengisi usia serta jenis kelamin. Status itu pun membuat Soren kebanjiran chat dari para laki-laki. Tidak semua ditanggapi Soren.

Status itu bukan iseng dibuat Soren. Ia benar-benar ingin mencari partner seks untuk satu malam saja. Soal kebutuhan biologis dan sekadar untuk kesenangan menjadi alasannya. Meski demikian, ia tidak sembarangan mengajak lelaki untuk tidur bersama. Ia punya syarat: si laki-laki harus tampan dan usianya harus lebih tua darinya.

“Aku 27 tahun, cari yang lebih tua,” kata Soren.

Sebelum sepakat tidur bersama, Soren juga terlebih dahulu meminta si lelaki mengirimkan foto. Jika cocok, Soren akan membalas dengan mengirimkan fotonya dan memberi tahu lokasi keberadaannya.

Hal semacam itu tidak hanya dilakukan oleh Soren. Ada banyak akun di Whisper yang juga mencari partner untuk tidur bersama. Ada beberapa yang terang-terangan mencari friends with benefit atau mencari teman berbagi elusan atau sekadar untuk jalan atau nongkrong ke mall.

Hal sama juga dilakukan akun Banana Milkshake. Ia seorang perempuan berusia 20 tahun yang tengah belajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Dalam statusnya ia menulis “Real relationship anyone? Kalau bisa yang ramah, sabar, suka makan, bisa main gitar”. Status itu pun langsung disambut puluhan chat.

Selama ini sudah dua kali bertemu dengan lelaki untuk sekadar cuddling di apartemennya. Ia menolak untuk melakukan bersetubuh. Lelaki terakhir yang ia temui adalah sesama mahasiswa tetapi beda kampus. Namun, karena si lelaki tidak sopan, ia lantas mengusirnya dari apartemen.

“Saya pengen aja punya partner buat cuddling, karena nggak punya pacar. Pengen langsung nikah, sih, sebenarnya,” katanya lagi.

Ilham (bukan nama sebenarnya) seorang pelajar SMA juga mengaku pernah melakukan hookup dengan seorang perempuan yang juga masih duduk di bangku SMA. Ilham mengaku sudah melakukan senggama. “Ya pas rumah kosong, saya ajak ke rumah saja,” kata Ilham.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di Jakarta. Sudah banyak terjadi, walau dilakukan secara diam-diam, karena seks masih menjadi barang tabu. Namun faktanya, seks bebas sendiri sudah dipraktikkan.

Di Amerika sendiri, fenomena hookup sudah lama terjadi. Online College Social Life Survey (OCSLS) yang dibuat oleh Paula England dan Jessie Ford pernah melakukan survei secara online terhadap lebih dari 20,000 mahasiswa antara 2005 hingga 2011. Dari survei itu diketahui bagaimana para mahasiswa mendefinisikan hookup.

“Para mahasiswa menggunakan terminologi hookup secara umum yakni bukan sesuatu yang formal, kencan yang tidak direncanakan, tapi dua orang yang bertemu pada sebuah pesta atau di asrama lalu tindakan seksual itu terjadi,” tulis riset itu.

(Sumber: Tirto.id)

Dalam riset itu, mereka menemukan bahwa 40 persen hookup dilakukan dengan persetubuhan dan 35 persen melakukan hookup tidak lebih dari bercumbu dan tidak menyentuh alat kelamin. Sisanya melakukannya hanya dengan oral seks dan atau melakukannya dengan tangan. Beberapa mahasiswa melakukan hookup lebih dari sekali dengan partner yang sama, 29 persen di antaranya sudah melakukan melakukan persetubuhan saat pertama kali hookup.

Meski angka hookup tinggi, akan tetapi para mahasiswa tidak melakukan secara rutin. Mereka hanya melakukannya paling banyak 8 kali dalam 4 empat tahun, atau sekali dalam satu semester.

Perihal hookup itu, Lisa Wade, seorang sosiolog, menulis sebuah buku berjudul American Hookup: The New Culture of Sex on Campus yang diterbitkan pada awal 2017. Dalam buku itu Lisa menceritakan bagaimana hookup juga berakhir dengan perasaan saling suka. Salah satunya terjadi pada Farah dan Tiq. Hal tersebut membuat pertemanan yang sudah lama menjadi tidak lagi erat.

“Jika para mahasiswa berteman baik, mereka harus bertingkah seperti hanya kenalan saja. Jika mereka hanya kenalan, mereka akan bertingkah seperti orang asing,” kata Wade.

Di Indonesia, fenomena itu juga sudah terjadi. Masyarakat tidak bisa lagi menutup mata atas budaya seks baru ini. Fenomena ini sulit dibendung, apalagi hookup tidak hanya dilakukan secara offline tetapi juga online lewat beragam aplikasi.

Soren misalnya, dia pernah melakukan hookup secara offline dan online. Pertama kali ia melakukannya pada 2014 setelah mengetahuinya dari teman-temannya. Terakhir dia hookup dengan seorang lelaki kewarganegaan Jepang yang sedang ada urusan bisnis di Indonesia pada April lalu. Soren berkenalan lewat aplikasi Tinder. “Aku cukup pemilih untuk urusan ini,” ujarnya.

Menyalahkan provider atau aplikasi sudah barang tentu bukan solusi, sebab aplikasi macam itu bisa terus dibikin atau diakali. Terlibatnya anak usia sekolah dan mahasiswa pada hookup culture ini hanya bisa diantisipasi dengan memberikan pendidikan seks sedini mungkin pada remaja. Menjadi tugas orang tua dan pemerintah untuk melakukannya.

(tirtoid/seksualitas)