Tri saat itu berusia 29 tahun saat ia melakukan tes pap smear di sebuah rumah sakit swasta pada tahun 2016. Statusnya yang masih lajang membuatnya harus menandatangani sebuah surat yang menyatakan dirinya aktif secara seksual meskipun belum menikah.

“Saya bilang sama dokter waktu itu kalau saya belum menikah tapi aktif secara seksual”, katanya. “Dokter mengijinkan pap smear tapi meminta saya untuk tanda tangan surat pernyataan dulu. Dia bilang ini kebijakan rumah sakit, karena catatan medis saya menunjukkan kalau saya belum menikah. Jadi untuk bisa pap smear yang biasanya diberikan pada wanita yang sudah menikah, saya harus tanda tangani pernyataan.”

Tak ada hukum yang melarang pap smear bagi wanita lajang di Indonesia. Beberapa klinik seperti Prodia dan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) bersedia memberikan pelayanan pada setiap pasien yang datang. Tetapi banyak juga fasilitas kesehatan yang menolak karena mereka percaya bahwa wanita lajang belum (seharusnya tidak) aktif secara seksual.

“Saya merasa gak nyaman”, ingat Tri. “Kenapa rumah sakit harus menghubungkan status lajang dengan keperawanan? Di Kupang, banyak orang yang aktif secara seksual meskipun belum menikah. Gimana kalau ada seseorang yang mau periksa tapi gak mau bilang kalau dia aktif secara seksual? Dan kenapa juga saya harus menuliskan surat pernyataan?

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) memperkirakan bahwa 33 wanita Indonesia meninggal dunia karena kanker serviks setiap harinya. Organisasi kesehatan dunia (WHO) juga percaya bahwa setiap harinya, ada 60 wanita yang terdiagnosis kanker serviks.

Pada kenyataannya, kanker serviks masih menjadi penyebab kematian utama bagi wanita Indonesia, dengan lebih dari 12,000 wanita meregang nyawa karena penyakit ini setiap tahunnya.

Pada minggu lalu, penyanyi dangdut berusia 36 tahun, Julia ‘Jupe’ Perez, menjadi bagian dari hasil statistik tersebut. Ia meninggal dunia setelah tiga tahun melawan kanker serviks.

Jupe dikenal di dalam negeri sebagai sosok wanita yang blak-blakan terhadap tubuhnya sendiri. Seperti dilihat dari caranya berpakaian dan caranya memilih kostum saat berada di layar kaca. Tak sedikit juga orang yang mencemoohnya karena hal ini.

Jadi bagaimana bisa seseorang dengan kekayaan dan status seperti Jupe bisa meninggal dunia karena kanker serviks, penyakit yang bisa dicegah dengan tingkat kesembuhan 91% jika diketahui lebih awal?

Jawabannya ada pada sikap negeri ini terhadap seks.

Hubungan seksual pada umumnya dianggap hanya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa banyak orang dengan status lajang yang melakukan hubungan seks. Sebuah studi yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak pada tahun 2007 menemukan bahwa 63% remaja yang menjadi responden sudah aktif secara seksual.

Baca:

Stigma sosial terhadap aktifitas seksual di luar pernikahan mempengaruhi aksesibilitas terhadap pap smear. Banyak praktisi medis yang menolak melakukan pap smear pada wanita lajang. Pap smear yang dilakukan dengan mengambil sampel dari sel kulit serviks, merupakan metode yang singkat untuk mengetahui apakah si pasien menderita kanker pada serviksnya.

Terlepas dari keefektifannya dalam mendiagnosis penyakit ini, dokter sering enggan memberikan layanan kepada wanita yang belum menikah, yang seringkali secara keliru menganggap bahwa ‘tidak menikah’ berarti ‘tidak aktif secara seksual’ – dengan kata lain masih perawan.

Sementara itu, ibu Nandra yang berusia 19 tahun pernah melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit spesialis kulit dan kelamin di Jakarta, ia ingin melakukan tes pap smear. “Dokternya menolak”, katanya. “Kata dokter, ‘Oh kamu gak perlu, belum nikah soalnya.'”

Sayangnya, kanker serviks tidak hanya menyerang mereka yang sudah menikah. Siapapun yang aktif secara seksual beresiko terinfeksi Human Papillomavirus (HPV), virus utama penyebab kanker serviks. HPV sangat mudah ditularkan pada pasangan (80% pria dan wanita akan terinfeksi selama hidup mereka).

Hal yang sulit diprediksi dari kanker serviks ialah gejalanya tidak selalu terlihat. Inilah kenapa pap smear menjadi penting baik itu bagi wanita yang sudah menikah maupun yang masih lajang. Pap smear bisa mendeteksi perubahan sel yang diakibatkan oleh HPV, yang mana sel ini bisa diambil sebelum menjadi sel kanker.

Seorang aktifis perempuan, Mia, pernah melakukan pap smear di Jakarta pada 2010. Meskipun saat itu ia masih lajang, tetapi ia memutuskan untuk melakukan pap smear di sebuah klinik ibu dan anak. Kebetulan salah seorang temannya seorang dokter di sana.

“Saya pikir karena dia teman saya, jadi saya bisa minta dia untuk pap smear,” jelas Mia. “Tapi dia nolak karena saya masih lajang. Dia bilang saya belum butuh karena pap smear cuma untuk yang sudah menikah. Saya gak cerita sama dia kalau saya sudah aktif secara seksual karena gak enak aja ngomongin itu. Saya pikir dia akan paham karena dia teman saya.”

Mia yang sekarang sudah menikah mengatakan bahwa penolakan yang pernah ia alami saat ingin tes pap smear ini juga mempengaruhi dirinya. “Setelah itu, saya gak pernah coba tes pap smear di manapun. Dokternya judgemental banget, saya trauma dan kecewa sih”, katanya. “Saya ingin periksa karena alasan medis, kenapa saya harus diperlakukan begitu?”

Dewan Kanker Australia mengusulkan bahwa setiap wanita yang pernah berhubungan seks harus melakukan pap smear setiap dua tahun sekali mulai dari usia 18 sampai 70 tahun. Rekomendasi ini merupakan standar kesehatan di seluruh dunia.

Vaksin yang bisa membantu mengurangi kemungkinan kanker serviks juga telah dikembangkan sejak 20 tahun lalu. Vaksin ini melindungi wanita dari berbagai jenis HPV dan sangat efektif jika diberikan sebelum mereka aktif secara seksual. Bahkan artis Deddy Corbuzier mengetahui hal ini dan merekomendasikan vaksin ini bagi para wanita. Pada tahun 2016, Kementerian Kesehatan telah melakukan skema pilot di DKI Jakarta dengan memberikan vaksin gratis bagi siswi-siswi kelas lima Sekolah Dasar. Program ini juga sedang dilakukan di DI Yogyakarta sejak tahun ini.

Dengan cara yang sangat nyata, tabu dan stigma sosial tentang seks bahkan dapat menyebabkan kematian (yang seharusnya bisa dicegah) pada wanita Indonesia. Mungkin kematian tragis Jupe bisa menjadi panggilan bagi para praktisi medis kita untuk mulai membuang stigma terhadap perilaku seks dan menempatkan kesehatan dari pasiennya di atas apapun. Dengan akses mendapatkan pap smear dan vaksin HPV, tak akan ada lagi wanita yang harus meninggal dunia karena kanker serviks.

Klinik Prodia memberikan vaksin HPV dan pap smear gratis bagi pemegang BPJS, Askes, dan KIS di seluruh Indonesia hingga bulan November. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut. PKBI memberikan pelayanan non-judgemental, termasuk pap smear dan vaksin HPV di seluruh Indonesia. Sementara di Jakarta, Angsamerah menjadi pilihan yang baik untuk memberikan pelayanan kesehatan reproduksi.

(coconutsco/seksualiatas)